ENERGY

Pahami Dulu Berapa Target Kapasitas PLTS Lima Belas Tahun Kedepan?

Pahami Dulu Berapa Target Kapasitas PLTS Lima Belas Tahun Kedepan? Saat ini pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan semakin digenjot. Pemerintah sudah menargetkan peningkatan kapasitas PLTS pembangkit listrik tenaga surya dapat mencapai 17.687 megawatt lima belas tahun mendatang atau sekitar tahun 2035.

Bahwa dalam upaya mengakselerasi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), PLTS akan dikembangkan secara lebih masif, demikian disampaikan oleh Harris Yahya selaku Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Harris dalam acara Virtual The 9th Indonesia EBTKE ConEx 2020, Kamis (26/11/2020) juga mengatakan. “Ke depan ini, pemerintah sudah membuat asesmen meskipun belum secara detail bahwa diperkirakan sampai sekitar tahun 2035 energi baru terbarukan EBT, khususnya untuk PLTS, akan diberikan ruang yang sangat besar dalam penyediaan energi nasional,”

Perlu di pahami dulu juga bahwa pengembangan pembangkit listrik tenaga surya PLTS dilakukan secara masif dilakukan melalui tiga pendekatan. 

Pertama, melalui pengembangan PLTS skala besar dengan target penambahan kapasitas hingga 13.565 MW. Beberapa program pengembangan PLTS skala besar yang direncanakan, antara lain PLTS terapung di Waduk Singkarak 0,5 GW—1 GW, PLTS di Kalimantan Barat untuk 0,5 GW—1 GW, PLTS di Nusa Tenggara Timur 2 GW, dan pembangunan PLTS di lahan-lahan bekas tambang. “Pemerintah daerahnya ingin NTT sebagai lumbung energi berbasis surya. Ini ide besar yang memang masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut terkait dengan infrastruktur transmisinya karena diperlukan mungkin tidak kurang dari 600 kilometer transmisi 500 kilovolt perlu disiapkan,” kata Harris.

Baca Juga :   PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap Distribusikan EBT Pada Masyarakat

Kedua, melalui subtitusi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan PLTS. Kapasitasnya ditargetkan dapat mencapai 1.200 MW.

Ketiga, pengembangan PLTS atap secara masif. Tak hanya di pelanggan rumah tangga, pemerintah juga akan mendorong pemanfaatan PLTS atap di gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas BUMN, serta memaksimalkan pemanfaatan PLTS atap di sektor industri dan komersial. Penambahan kapasitas PLTS atap diharapkan dapat mencapai 2.904 MW.

Perlu di pahami dulu bahwa menurut Harris, saat ini harga listrik dari PLTS makin murah dan persoalan intermitensi juga telah mampu diatasi dengan solusi baterai. Oleh karena itu, isu harga dan intermitensi bukan lagi menjadi tantangan dalam mengembangkan PLTS. Dengan mendorong pengembangan PLTS skala besar, dia yakin harga listrik dari PLTS bisa kurang dari US$0,04 per kWh.

“PLTS makin lama makin feasible dengan harga yang terbentuk US$0,013 sen per kWh di Portugal dengan kapasitas 700 MW. Ini tentunya bisa menjadi inspirasi kita bisa melakukan hal yang sama,” kata Harris.

“Saat ini kontrak PLTS di Cirata US$0,058 sen per kWh. Ada info juga baru-baru ini di dalam negeri sudah ada penawaran PLTS terapung di Sumatra harganya sudah di bawah US$0,04 per kWh. Ini progres yang baik di level nasional untuk akselerasi PLTS ke depan,” imbuhnya.

Adapun, saat ini pemanfaatan PLTS di Indonesia baru mencapai sekitar 0,15 GW dari total potensi 207,80 GW.

Baca Juga :   Pahami Dulu Bagaimana Dampak Covid-19 Pada Penggunaan Energi Listrik