Tag Archives: covid-19

Vitamin D Melindungi Dsri Covid 19

Pahami Dulu, Apakah Vitamin D Membantu Pencegahan Covid-19?

Pahami Dulu, Apakah Vitamin D Membantu Pencegahan Covid-19?

Pandemi Covid-19 masih belum berakhir sampai sekarang dan entah kapan akan berlalu, semoga Anda senantiasa diberi kesehatan. Sementara itu para ilmuwan masih terus bekerja keras berusaha melakukan penelitian lebih jauh terkait Covid-19 yang di akibatkan oleh virus corona, untuk mendapatkan solusi obat dan vaksin

Pahami Dulu, Apakah Vitamin D Membantu Pencegahan Covid-19? Pandemi Covid-19 masih belum berakhir sampai sekarang dan entah kapan akan berlalu, semoga Anda senantiasa diberi kesehatan. Sementara itu para ilmuwan masih terus bekerja keras berusaha melakukan penelitian lebih jauh terkait Covid-19 yang di akibatkan oleh virus corona, untuk mendapatkan solusi obat dan vaksin.

Ada beberapa hal lain yang juga menjadi bahan penyelidiki oleh para peneliti, apakah kadar vitamin D bisa menyembuhkan atau mengurangi risiko infeksi Covid-19. Beberapa penelitian terbaru memperlihatkan adanya hubungan antara kadar vitamin D yang rendah terhadap risiko yang lebih besar terinfeksi corona virus, namun demikian menurut para ahli ini masih belum cukup memberi bukti jika vitamin D benar benar bisa seratus persen melindungi tubuh dari virus corona.

Sebuah studi yang dikutip dari Live Science, mengungkapkan bahwa resiko terpapar virus corona bagi orang yang kadar Vitamin D nya rendah akan dua kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang kadar Vitamin D nya tercukupi. Demikian juga studi lain yang diterbitkan oleh The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism pada 27 Oktober, mengungkapkan jika ternyata pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit mempunyai kadar vitamin D lebih rendah dibandingkan dengan kelompok pasien yang tidak terinfeksi Covid-19.

Sementra itu di Queen Mary University of London, Adrian Martineau, yang mempelajari infeksi pernapasan dan kekebalan mengatakan, kaitan tersebut memang belum bisa membuktikan jika seseorang yang kekurangan kadar vitamin D dapat menmiliki peningkatan risiko Covid-19. “Tapi itu sugestif dan itu cukup mendorong melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada hubungan sebab-akibat yang sebenarnya,” kata Martineau kepada Live Science.

Benarkah kadar Vitamin D mempunyai efek perlindungan?

Martineau mengakui, memang alasan untuk berhipotesis ada, bahwa kadar vitamin D itu memungkinkan dan bisa mengurangi risiko Covid-19. “ kadar Vitamin D memang terbukti dapat meningkatkan respons sistem kekebalan terhadap virus dan mengurangi membantu respons peradangan – di mana ciri kasus Covid-19 yang parah terjadi respons peradangan yang berlebihan” katanya.

Menurut meta-analisis oleh Martineau, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2017 di jurnal BMJ dan telah diperbarui pada bulan Juli lalu di server pracetak medRxiv, suplementasi vitamin D mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan akut secara umum dibandingkan dengan plasebo. Namun, meta-analisis tersebut tidak memasukkan studi tentang Covid-19.

Selain itu, ada tumpang tindih antara kelompok orang dengan risiko kekurangan kadar vitamin D yang lebih tinggi, seperti orang tua dan orang dengan kulit lebih gelap, dan mereka yang berisiko lebih tinggi untuk Covid-19. Sebuah studi sebelumnya yang diterbitkan 6 Mei di jurnal Aging Clinical and Experimental Research, juga menemukan bahwa di 20 negara Eropa, semakin rendah kadar vitamin D rata-rata, semakin tinggi tingkat kasus virus corona dan kematian untuk negara tertentu. Namun, tidak semua penelitian menunjukkan efek perlindungan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan 7 Mei di jurnal Diabetes & Metabolic Syndrome tidak menemukan hubungan yang signifikan secara statistik, antara kadar vitamin D dan risiko Covid-19 – setelah para peneliti memerhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi risiko Covid-19. Kaitan kadar Vitamin D dan Covid-19 Dalam studi JAMA Network Open, para peneliti memeriksa hubungan antara kemungkinan kadar vitamin D dan risiko Covid-19 pada 489 orang yang melakukan tes Covid-19 di University of Chicago Medicine antara 3 Maret hingga 10 April dan yang kadar vitamin D nya telah diukur pada tahun sebelumnya.

Para peneliti studi menemukan, risiko positif Covid-19 pada orang yang kadar vitamin D-nya kurang (pasien dengan kadar vitamin D rendah pada tes terakhir mereka dan yang tidak mengubah pengobatan mereka) adalah 1,77 kali lebih besar daripada pasien yang kadar vitamin D-nya cukup. Demikian menurut analisis para peneliti, yang memerhitungkan perbedaan lain antara kedua kelompok yang dapat memengaruhi risiko Covid-19.

Berbeda lagi dengan studi Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism yang membandingkan kadar vitamin D dari 216 pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 di University Hospital Marqués de Valdecilla di Santander, Spanyol, dari 10 Maret hingga 31 Maret dengan kelompok kontrol 197 pasien yang mendapatkan vitamin D. Dari pasien Covid-19, 82% mengalami kekurangan vitamin D dibandingkan dengan 47% pasien kontrol, perbedaan yang bermakna secara statistik.

Kekuatan studi University of Chicago adalah, kadar vitamin D diukur sebelum tes Covid-19 pasien, sedangkan pada penelitian di Spanyol, kadar vitamin D pasien diukur setelah mereka dinyatakan positif Covid-19. “Sulit membedakan mana lebih dulu ayam atau telurnya. Dengan kata lain, virus corona mungkin menyebabkan rendahnya kadar vitamin D atau mungkin meningkatkan risiko,” kata Martineau. “Karena penelitian University of Chicago bersifat observasional – peserta tidak ditugaskan secara acak untuk mengonsumsi vitamin D atau tidak – tetapi itu tidak membuktikan bahwa kekurangan kadar vitamin D meningkatkan risiko Covid-19,” lanjutnya.

Senada dengan Martineau, Dr. David Meltzer, peneliti Universitas Chicago yang memimpin penelitian di sana mengatakan, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kekurangan kadar vitamin D menyebabkan Covid-19. Mengacu pada studinya dan hubungan lain antara vitamin D dan risiko Covid-19, menurutnya mungkin saja orang yang sakit secara umum lebih cenderung memiliki kadar vitamin D yang rendah.

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ayam-dan-telur, Martineau memimpin penelitian di mana peserta secara acak mengambil dosis vitamin D yang berbeda, kemudian diikuti untuk melihat apakah mengonsumsi lebih banyak vitamin D mengurangi risiko atau keparahan Covid-19. Baca juga: Bukti Baru, Vitamin D Turunkan Risiko Kematian pada Covid-19 Hingga saat ini studi masih berlangsung. Sementara itu, haruskah orang mulai mengonsumsi suplemen? Martineau merekomendasikan untuk mengonsumsi suplemen, tetapi hanya bagi mereka yang belum memenuhi pedoman untuk memenuhi kebutuhan vitamin D harian dari makanan.

Menurut National Institutes of Health Office of Dietary of Dietary Supplements, asupan vitamin D harian yang direkomendasikan adalah 600 unit internasional (IU) untuk orang dewasa hingga usia 70 dan 800 IU untuk orang dewasa berusia 71 tahun ke atas, “Rekomendasi saya adalah mengikuti saran itu, karena sudah mapan bahwa ini akan bermanfaat bagi tulang dan otot, selain itu ada kemungkinan dan peluang bagus, bahwa itu mungkin juga memiliki beberapa manfaat melawan virus corona, meski belum terbukti pasti,” Kata Martineau. Martineau menekankan, ia tidak merekomendasikan orang untuk mulai mengonsumsi vitamin D dengan dosis yang lebih tinggi, jika belum ada lebih banyak data terkait dosis vitamin D dan risiko Covid-19.


Sumber : kompas

Pahami Dulu Apakah Wisata Virtual Bisa Menggantikan Wisata Langsung

Coronavirus: Pahami Dulu Apakah Wisata Virtual Bisa Menggantikan Wisata Langsung?

Coronavirus: Pahami Dulu Apakah Wisata Virtual Bisa Menggantikan Wisata Langsung?

Sejak merebaknya pandemik coronavirus covid-19, Kondisi dunia yang menjadi tidak menentu karena efek coronavirus membuat hampir semua lini berusaha bertahan, salah satunya lini pariwisata.

Kondisi dunia yang menjadi tidak menentu karena efek coronavirus membuat hampir semua lini berusaha bertahan, salah satunya lini pariwisata. Kondisi saat ini membuat bisnis pariwisata berfikir keras agar bisnis tetap bisa berjalan.

Technology digital saat ini salah satu solusi untuk menjembatani dan mempermudah urusan manusia, lalu bagaimana dengan pariwisata digita? Pahami Dulu Apakah Wisata Virtual Bisa Menggantikan Wisata Langsung?

Banyak orang sebelum pandemic coronavirus sudah merencanakan liburan dan kunjungan wisata ke beberapa tempat yang indah dan exotic. Rencana untuk ini dan perjalanan lokan dan internasional lainnya pada tahun 2020 dipakasa berhenti secara tiba-tiba oleh pandemi Coronavirus ini. Di seluruh tempat wisata yang ada didunia, pemandangan yang dulunya ramai menjadi sepi, saat ini sudah mulai kembali pelan pelan ramai dengan menerapkan protokol kesehatan Coronavirus covid-19, hotel-hotel juga cenderung sepi..

Statistik yang dikeluarkan oleh Asosiasi Transportasi Udara Internasional (Iata) mengatakan bahwa lalu lintas internasional penerbangan hanya mampu mengangkut sekitar 10% penumpang dibandingkan dengan kondisi normal. Sehingga efeknya banyak maspkapai yang sekarat, bahkan ada yang sduah bangkrut.

Dengan kondisi ini maka munculah alternative wisata virtual, jadi perlu kita pahami dulu apakah wisata Pahami Dulu Apakah Wisata Virtual Bisa Menggantikan Wisata Langsungirtual bisa enggantikan wisata langsung?Sebenarnya kondisi ini bagi warga negara Indonesia sepertinya sudah mulai terbiasa, sehingga wisata langsung tetap menjadi alternative penghilang penat, Namun demikian kita perlu sedikit bahas tentang wisata virtual ini.

Alternatif Wisata

“Dampak Coronavirus Covid-19 ini telah benar benar mempengaruhi trend wisata. Alternatif wisata digital bisa menjadi pilihan seperti dengan menggunakan media TV, youtube, dan technology VR atau Virtual Reality. Tetapi pariwisata digital itu tentu tidak akan bisa 100% menggantikan wisata konvensional secara langsung, tapi kita akan coba ulas.

Kita coba kembali ke perspektif internasional, Steve Perillo adalah bos dari sebuah perusahaan VR dan pemasaran video 360 derajat yang bernama Travel World VR, dia mengatakan pandemi Coronavirus covid-19 telah menjadi “suntikan adrenalin” untuk teknologi yang sampai saat ini “belum muncul sepenuhnya”. Jadi VR sangat potensial untuk dikembangkan.

Di beberapa negara Wisata Digital dengan Virtual Reality sudah mulai menjadi alternatif wisata baru, diantara beberapa negara yang paling menonjol adalah Jerman, yang telah meluncurkan sejumlah proyek imersif untuk menyoroti potensi negara tersebut sebagai tujuan wisata.
Dalam video 360 derajat yang didesain untuk menggunakan gadget headset Oculus Rift, misalnya, Dewan Pariwisata Nasional Jerman (GNTB) mengajak pemirsa melakukan perjalanan ke seluruh negeri, dan juga perjalanan ke bagian pantai Baltik dan Laut Utara.

Kepala eksekutif GNTB Petra Hedorfer mengatakan “Aplikasi digital tidak dapat, dan tidak dimaksudkan untuk, menggantikan pengalaman perjalanan dunia nyata, namun, aplikasi VR dan AR (augmented reality) merupakan hal penting untuk menjaga minat terhadap Destinasi Jerman tetap hidup selama pembatasan perjalanan, membuat calon pelanggan tertarik dengan produk kami dan memberikan inspirasi untuk perjalanan dunia nyata.”

Di negara Irlandia bahkan sudah memulai Alternatife wisata Virtual Reality ini sebelum pandemi dimulai. Pada November 2019, Tourism Irlandia sudah meluncurkan pengalaman VR untuk mempromosikan pemandangan di Irlandia Utara.

Sedangkan di Maladewa, VR telah digunakan tetapi tujuan utamanya lebih untuk menampilkan berbagai pengalaman di properti pulau, seperti yoga pagi di tepi pantai, snorkeling, atau pelajaran memasak jadi bukan untuk menggantikan wisata langsung, tetapi ini bisa juga menjadi salah satu alternatif wisata mendatang.

Tetapi dari sini kita bisa melihat bahwa teknologi VR, bisa menjadi alat untuk memberikan gambaran dan mungkin lebih tepatnya sebagai media promosi, karena bagaimanapun wisata langsung adal suatu pengalaman yang tidak bisa digantikan sekalipun dengan teknologi VR.

Nah dengan kekurangan dan kelebihannya Alternatif wisata virtual dengan wisata langsung kira kira bis menggantikan kepuasan tidak ya? Mungkin bisa dibandingkan perjalanan menuju ke tempat wisata yang kadang dan sebagian besar macet seperti perjalanan ke puncak, ke lembang dan lainnya, Apakah wisata digital bisa menggantikan? saya rasa tidak ya, tetapi ini hanya akan menjadi alternatif wisata.

Badai Sitokin, Dua Kekebalan Berbahan Kimia

Bagaimana Dua Sistem Kekebalan Berbahan Kimia Dapat Memicu Badai Sitokin Mematikan COVID-19

Bagaimana Dua Sistem Kekebalan Berbahan Kimia Dapat Memicu Badai Sitokin Mematikan COVID-19

Sebuah penelitian pada tikus mengisyaratkan obat yang dapat membantu dalam mengobati infeksi virus corona yang parah

Pahami dulu – Bagaimana dua sistem kekebalan berbahan kimia dapat memicu badai sitokin mematikan COVID-19. Sebuah penelitian pada tikus mengisyaratkan obat yang dapat membantu dalam mengobati infeksi virus corona yang parah

Persisnya bagaimana virus corona membunuh masih menjadi misteri. Tetapi sebagian dari masalahnya mungkin kemitraan antara hanya dua bahan kimia sistem kekebalan yang memicu kerusakan organ yang mematikan.

Pada tikus, kombinasi bahan kimia kekebalan yang disebut TNF alfa dan interferon gamma perjalanan rantai domino reaksi biokimia yang pada akhirnya menyebabkan tiga jenis kematian sel, para peneliti melaporkan 29 Oktober di bioRxiv.org. Gelombang kematian sel itu selanjutnya memberi makan peningkatan bahan kimia kekebalan, yang dikenal sebagai badai sitokin, yang menyebabkan lebih banyak kematian sel dan menyebabkan kerusakan dan kegagalan jaringan dan organ.

Jika proses yang sama terjadi pada orang dengan COVID-19 parah, penelitian menunjukkan beberapa obat yang ada yang mungkin membantu menenangkan badai sitokin dan mencegah penyakit parah atau membantu pemulihan. Hasil awal, bagaimanapun, belum ditinjau oleh ilmuwan lain.

Studi demi studi menemukan bahwa orang dengan COVID-19 parah memiliki peningkatan tingkat bahan kimia yang merangsang peradangan yang disebut sitokin dalam darah mereka dibandingkan dengan orang sehat, kata ahli imunologi Thirumala-Devi Kanneganti dari Rumah Sakit Penelitian Anak St. Jude di Memphis, Tenn. mekanisme dimana sitokin dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian tidak diketahui.

Kanneganti dan rekannya memilih delapan dari sitokin yang paling sering meningkat pada pasien COVID-19 yang sakit parah untuk melihat bagaimana sitokin memengaruhi sel yang tumbuh di piring laboratorium. Sendiri, tidak ada sitokin yang menyebabkan kerusakan pada sel makrofag yang melawan infeksi. Tetapi ketika para peneliti merawat makrofag dengan campuran delapan sitokin, “kami melihat kematian sel yang dramatis, luar biasa, melalui atap,” kata Kanneganti. Tim kemudian mencoba berbagai kombinasi sitokin dan menemukan bahwa hanya pasangan interferon alfa TNF dan gamma yang mematikan bagi makrofag.

Itu mengejutkan, kata Mohamed Lamkanfi, seorang ahli imunologi di Universitas Ghent di Belgia yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Sitokin tersebut telah dipelajari selama beberapa dekade dan sebelumnya tidak terlibat dalam membunuh sel.

Duo mematikan ini tidak hanya membunuh sel. “Saat kami menyuntikkan kombinasi TNF dan interferon gamma, mencit mati seperti lalat. Dalam 10 jam mereka mati begitu saja, ”kata Kanneganti. Dan tikus-tikus itu memiliki gejala yang mirip dengan yang terlihat pada orang dengan COVID-19 parah, seperti jumlah sel T yang melawan infeksi yang rendah dan tanda-tanda kerusakan hati dan jaringan.

Selanjutnya, Kanneganti dan rekan-rekannya menguraikan bagaimana kedua sitokin tersebut membunuh sel dan tikus. Dalam serangkaian percobaan, para peneliti menemukan bahwa kombo tersebut memicu tiga jenis kematian sel: apoptosis, pyroptosis dan necroptosis.

Apoptosis adalah jenis kematian sel terprogram yang tenang yang sering terjadi, bahkan pada orang sehat. Itu diperlukan untuk perkembangan dan kesehatan yang tepat, termasuk menghindari kanker. Sel yang terinfeksi virus sering kali memicu mekanisme penghancuran diri ini. Kematian dan pengangkatannya dari tubuh dapat membantu melindungi sel lain agar tidak terinfeksi.

Pyroptosis dan nekroptosis lebih berantakan, menyebabkan sel-sel mengeluarkan isi perutnya dan melepaskan sitokin dan kotoran yang dapat memicu lebih banyak peradangan. Para peneliti tahu bahwa kematian yang lebih parah ini terlibat dalam beberapa kondisi peradangan, tetapi apoptosis sebelumnya tidak diketahui mengganggu sistem kekebalan, kata Kanneganti.

Mengaktifkan ketiga jenis kematian sel secara bersamaan – proses yang menghasilkan peradangan yang disebut Kanneganti sebagai PANoptosis – mengarah pada badai sitokin yang terus meningkat, “seperti badai,” katanya.

Para peneliti mengira bahwa ketiga jenis kematian sel tersebut dipicu oleh saklar biokimia yang berbeda. Tetapi kelompok Kanneganti menemukan bahwa ketiga jenis kematian dapat terjadi akibat reaksi berantai tunggal, atau jalur. Di ujung jalur jalur biokimia terdapat protein yang dikenal sebagai STAT1 dan JAK. Tindakan kimiawi yang tidak tepat oleh keduanya telah terlibat dalam beberapa jenis kanker, dan penghambat protein ini sedang diuji dalam terapi kanker.

Satu penghambat JAK, obat yang disebut baricitinib, sudah diuji untuk melawan virus corona. Bukti awal memberi kesan bahwa ketika diberikan kepada pasien yang dirawat di rumah sakit bersama dengan obat antiviral remdesivir, baricitinib dapat mempersingkat masa tinggal di rumah sakit bahkan lebih dari yang ditunjukkan oleh remdesivir saja.

Para peneliti juga menemukan bahwa memblokir TNF alpha dan gamma interferon melindungi tikus yang terinfeksi SARS-CoV-2 – virus yang menyebabkan COVID-19 – agar tidak mati. Tikus dengan kondisi peradangan lain juga terlindungi dari kematian ketika kedua sitokin diblokir, dan pada tingkat yang lebih rendah ketika hanya satu yang diblokir. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kedua sitokin harus diblokir agar memiliki efek, kata Lamkanfi.

Obat dan antibodi yang memblokir kekebalan dua bahan kimia. Ada dan digunakan untuk mengobati beberapa penyakit autoimun. Misalnya, penghambat alfa TNF digunakan untuk mengobati penyakit Crohn, kolitis ulserativa, serta rheumatoid dan artritis psoriatis.

Data Kanneganti meyakinkan bahwa dua sitokin mungkin terlibat dalam apa yang salah pada pasien COVID-19 yang sakit parah, kata Craig Coopersmith, peneliti sepsis dan direktur Emory Critical Care Center di Atlanta. “Ini secara mekanis menarik dan memberikan beberapa potensi target [obat] yang perlu ditelusuri,” katanya.

Tetapi dia skeptis bahwa pemblokiran kedua sitokin akan sama efektifnya pada manusia seperti pada tikus. “Saya telah menyembuhkan sepsis tikus 15 kali, dan saya tahu kolega saya telah menyembuhkan COVID tikus,” katanya. Tapi “sering kali ketika Anda melakukan uji coba pada orang, hasilnya negatif.”

Dan hanya karena suatu obat dapat bekerja secara masuk akal bukan berarti itu akan berhasil, tentu saja. Misalnya, obat antibodi yang disebut tocilizumab, yang memblokir sitokin lain yang disebut IL-6, tidak menunjukkan manfaat untuk mengobati COVID-19 dalam uji klinis baru-baru ini (SN: 23/10/20).

Pada manusia, tiga serangkai kematian sel yang dipicu oleh TNF alpha dan interferon gamma bukanlah satu-satunya hal yang membunuh pasien COVID-19, Coopersmith menekankan. Masalah pembekuan darah dan kardiovaskular serta kerusakan paru-paru akibat ventilasi mekanis juga merupakan masalah besar. Namun demikian, “studi fenomenal mekanis” baru memberi para peneliti tempat yang baik untuk mulai mencari tahu apa yang salah pada orang dengan COVID-19 parah, katanya, dan belajar bagaimana memperbaikinya.


Penulis : Tina Hesman Saey
Sumber : Sciencenews.org


Covid 19 Bertahan Di Kulit Manusia

Virus Corona COVID-19 Dapat Tetap Aktif di Kulit Manusia Selama Sembilan Jam

Pahami dulu – Corona COVID-19 Dapat Tetap Aktif di Kulit Manusia Selama Sembilan Jam. Sebuah studi baru-baru ini oleh para peneliti Jepang mengungkapkan bahwa virus corona COVID-19 dapat tetap aktif di kulit manusia selama sembilan jam, sebuah pengungkapan yang menyoroti perlunya sering mencuci tangan selama pandemi.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases itu juga membandingkan berapa lama SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, bertahan di permukaan kulit manusia dibandingkan dengan virus influenza A (IAV), yang menyebabkan flu musiman.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, galur IAV adalah “satu-satunya virus influenza yang diketahui menyebabkan pandemi flu”.
Para peneliti menemukan bahwa sebagai perbandingan, patogen penyebab flu hidup di kulit manusia hanya selama 1,8 jam.

“Keberlangsungan hidup sembilan jam SARS-CoV-2 (jenis virus yang menyebabkan COVID-19) pada kulit manusia dapat meningkatkan risiko penularan kontak dibandingkan dengan IAV (virus influenza A), sehingga mempercepat pandemi,” studi tersebut. dicatat.

“Kelangsungan hidup SARS-CoV-2 yang lebih lama pada kulit meningkatkan risiko penularan kontak; Namun, kebersihan tangan dapat mengurangi risiko ini, ”tambah penelitian tersebut.
Para peneliti juga menemukan bahwa SARS-CoV-2 dan IAV pada kulit manusia benar-benar dinonaktifkan dalam 15 detik dengan menggunakan etanol. Pembersih tangan berbahan dasar alkohol mengandung setidaknya 60% etanol.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, untuk menghilangkan SARS-CoV-2 di tangan Anda, “bersihkan tangan Anda secara teratur dan menyeluruh dengan antiseptik berbasis alkohol atau cuci dengan sabun dan air.”

Data terbaru oleh Worldometer mengungkapkan bahwa ada lebih dari 40 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia dan lebih dari 1,1 juta kematian sebagai akibatnya. Sumber : Sputnik

Coronavirus Covid 19 Word Cloud Motion Background Of The Medical

Analisis Literatur COVID-19 Mengidentifikasi Kemungkinan Adanya Pengetahuan yang Terlewatkan

Pahami Dulu – Analisis Literatur COVID-19 Mengidentifikasi Kemungkinan Adanya Pengetahuan yang Terlewatkan. Analisis abstrak ilmiah COVID-19 menggunakan pemrosesan bahasa alami dan teknik pembelajaran mesin menunjukkan bahwa literatur yang ada saat ini tidak memiliki penelitian dasar tentang patogenesis dan penularan virus SARS-CoV-2, menurut artikel 16 September diterbitkan di Patterns.

Motivasi untuk penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi area penelitian dalam literatur COVID-19 saat ini yang relatif kurang dipelajari dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada virus korona non-SARS-CoV-2 lainnya, berdasarkan gagasan bahwa area tersebut mungkin sesuai dengan kesenjangan pengetahuan di studi tentang virus dan penularannya.

Ilmuwan relawan dari COVID-19 Dispersed Volunteer Research Network menganalisis lebih dari 137.000 abstrak hingga 31 Juli 2020, dari COVID-19 Open Research Dataset (CORD-19), korpus makalah ilmiah tentang COVID-19 yang mencakup penelitian yang diterbitkan di PubMed Central dan yang diarsipkan di server pracetak bioRxiv dan medRxiv. Mereka menganalisis teks lengkap abstrak, yang bertentangan dengan pendekatan tradisional hanya menganalisis kata kunci, yang memungkinkan wawasan yang lebih dalam ke dalam literatur, menurut penulis.

Analisis tersebut menemukan bahwa studi COVID-19 hingga saat ini terutama berbasis klinis, pemodelan atau lapangan, berbeda dengan sejumlah besar penelitian berbasis laboratorium untuk penyakit virus korona (non-COVID-19) lainnya.

“Dalam krisis seperti pandemi ini, kami berharap penelitian di luar lab terjadi pada kecepatan yang lebih cepat daripada penelitian lab,” kata penulis pertama Anhvinh Doanvo, ilmuwan data dari Jaringan Riset Relawan Dispersed COVID-19, dalam sebuah pernyataan. Namun demikian, relatif kurangnya studi berbasis laboratorium tampaknya unik untuk SARS-CoV-2, dibandingkan dengan virus korona manusia lainnya. Kekurangan penelitian berbasis laboratorium ini berarti bahwa komunitas ilmiah mungkin kehilangan aspek-aspek kunci dari virus yang dapat berdampak. kemampuan kita untuk mengatasi pandemi ini dan melawan pandemi di masa depan. “

Para peneliti juga menganalisis topik spesifik yang tercakup dalam abstrak COVID-19 dan non-COVID-19 menggunakan teknik yang disebut pemodelan topik alokasi Dirichlet laten. Analisis ini mengungkapkan bahwa publikasi COVID-19 cenderung berfokus pada kesehatan masyarakat, pelaporan wabah, perawatan klinis, dan pengujian virus corona.

Sebaliknya, ada kekurangan makalah yang berfokus pada mikrobiologi dasar COVID-19, termasuk patogenesis dan penularan.

“Penelitian mikrobiologi dasar lambat untuk mengambil langkah, meninggalkan potensi kesenjangan pengetahuan setelahnya,” kata Doanvo. “Ada kemungkinan bahwa sumber daya yang lebih kuat dalam upaya intensif waktu dan sumber daya ini akan memungkinkan komunitas ilmiah merespons virus ini dengan lebih cepat.”

Para peneliti juga mendokumentasikan evolusi penelitian COVID-19 dari waktu ke waktu. Mereka menemukan semakin banyak penelitian yang meneliti respons kesehatan masyarakat, masalah klinis terkait virus, dampak sosial dari wabah, dan bagaimana penyakit menyebar ke seluruh populasi. Sementara itu, pelaporan status wabah mulai stabil.

“Ini adalah perkembangan positif, karena ini menunjukkan bahwa komunitas ilmiah telah beralih dari peran pengamat pasif virus menjadi sebuah kelompok yang mempelajari cara-cara untuk melawan penyebarannya,” kata rekan penulis Maimuna Majumder, PhD, seorang ahli epidemiologi komputasi di Harvard Medical School dan program informatika kesehatan komputasi di Rumah Sakit Anak Boston.

Para peneliti berharap kerangka kerja pemrosesan bahasa alami yang mereka kembangkan dapat digunakan di masa depan untuk menyimpulkan kesenjangan penelitian pada patogen yang muncul sebelum meningkat ke tingkat pandemi dengan membandingkan distribusi lintas topik literatur tentang patogen baru dengan yang sebelumnya. menjelajahi patogen.

Sumber : Sciboard

Vaksin Covid 19

Total Angka Kematian Global Akibat Covid-19 Tembus Satu Juta

Pahami Dulu – Total Angka Kematian Global Akibat Covid-19 Tembus Satu Juta. Saat ini AS masih memimpin dunia dalam kasus Covid-19 dengan jumlah kasus positif lebih dari 7,1 juta kasus dan 205.000 kematian. Sementara negara Amerika Selatan, Brasil telah kehilangan warganya akibat pandemi ini sebanyak 142.000 orang dan terus bertambah, dengan lebih dari 4,7 juta kasus, sementara dari bagian Asia yaitu India telah menyusul dengan lebih dari 95.000 orang meninggal dan lebih dari enam juta kasus positiv covid-19 dikonfirmasi.

Sementara itu Jumlah kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia telah melampaui angka satu juta, dan jumlah kasus melebihi 33 juta pada, menurut data Universitas Johns Hopkins. China, sebagai tempat asal Covid-19, melaporkan sejumlah 90.000 kasus dan 4.700 kematian.

Berbagai negara telah berusaha dan berlomba lomba untuk memproduksi vaksin Covid-19, Hingga saat ini, sudah tercatat lebih dari 170 kandidat vaksin yang sudah masuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dari jumlah tersebut, dilaporkan sejumlah142 di antaranya baru memasuki fase pra-klinis dan belum diujicobakan secara langsung pada manusia.

Sementara itu, dari data yang diperoleh menunjukkan 29 di antaranya sudah berada di Fase 1, sedangkan18 sudah berada di Fase 2 dengan disertai peningkatan keamanan dan hanya sembilan kandidat vaksin yang telah memasuki Fase 3. Namun, sampai saat ini belum ada vaksin yang disetujui untuk penggunaan umum oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Satu sisi China telah menggunakan vaksin virus korona eksperimental kepada ribuan orang yang dimulai sejak Juli melalui program darurat, hingga saat ini tercatat sudah memiliki 11 vaksin dalam uji klinis dan empat diantaranya sudah masuk ke Fase 3.

Sementara Dokter Turki pada Senin memberikan suntikan pertama vaksin virus korona kepada petugas kesehatan di negara tersebut.

WHO tidak memperkirakan vaksinasi luas Covid-19 di seluruh dunia hingga pertengahan 2021.

Studi terbaru menunjukkan Vitamin D mengurangi risiko infeksi dan kematian pada mereka yang membawa virus korona

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa Vitamin D yang cukup, akan mengurangi risiko infeksi Covid-19 dan risiko kematian pada orang orang yang terpapar virus tersebut.

“Direkomendasikan bahwa meningkatkan status vitamin D pada populasi umum dan khususnya pasien rawat inap memiliki potensi manfaat dalam mengurangi keparahan morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan penularan Covid-19,” ungkap sebuah studi yang dilakukan oleh 11 peneliti dan dipublikasikan dalam sebuah jurnal ilmiah.

Tubuh seseorang membutuhkan 1.000-1.300 miligram Vitamin D setiap harinya, Menurut WebMD.com. Sumber sumber vitamin D tertinggi bisa diperoleh dari keju, hati sapi, kuning telur, dan ikan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebutkan dengan jumlah besar itu sebagai sebuah tonggak yang menyakitkan dan mengatakan bahwa itu adalah angka yang mematikan pikiran, hal ini disampaikan tidak lama setelah jumlah kematian global mencapai 1.000.555,

Guterres mengatakan rasa sakit yang muncul telah berlipat ganda disebabkan oleh pandemi virus ini, mengingat bahwa orang orang yang meninggal adalah orang terdekat, orang tua, ayah dan ibu, istri dan suami, teman dan kolega, saudara laki-laki dan perempuan.