Empat Pilar Budidaya Rakyat - Antara News
empat pilar budidaya rakyat antara news

Empat Pilar Budidaya Rakyat – Antara News



Jakarta (Antara) – Di era pandemi COVID-19, sektor peternakan terbukti terus tumbuh positif, di tengah banyak sektor lain yang tergerus hingga turun ke level negatif.

Pertumbuhan positif juga terjadi pada peternakan sapi dan daging yang termasuk dalam subsektor peternakan. Padahal, peternakan sapi potong di Indonesia secara tradisional dilakukan dengan menggunakan teknologi sederhana yang banyak dipraktikkan oleh masyarakat. Mereka memelihara ternak bukan untuk mata pencaharian utama mereka, tetapi hanya sebagai bagian dari kegiatan pertanian mereka.

Idealnya, pandemi harus menyadarkan semua pihak bahwa pasar daging sapi tetap buka meski di era krisis. Momentum ini membuka mata semua pihak bahwa ada peluang untuk meningkatkan taraf usaha di bidang peternakan sapi potong.

Tingkat bisnis dapat dinaikkan dari tingkat tradisional ke tingkat bisnis. Tentu perlu adanya perubahan model agribisnis agar petani kecil merasakan manfaat dari peningkatan level ini.

Ruang lingkup usaha yang terbatas menjadi tantangan untuk meningkatkan efisiensi usaha dan produktivitas peternakan sehingga usaha peternakan dapat berkelanjutan. Faktor penghambat peningkatan volume usaha pada umumnya adalah kurangnya modal usaha atau terbatasnya akses permodalan untuk pengembangan usaha.

Banyak upaya pemerintah untuk membantu permodalan peternak melalui berbagai skema bantuan seperti kredit langsung dan program pemberdayaan. Tujuannya adalah untuk merevitalisasi bisnis individu dan mengubahnya menjadi bisnis yang maju.

Strategi pengembangan sapi perah ke arah industri harus dilaksanakan melalui reformasi permodalan, sistem kelembagaan, penciptaan pasar dan pengenalan teknologi.

Untuk menyiasatinya, Presiden Joko Widodo mencoba mendorong usaha peternakan melalui pertanian komunal (communal farming).pertanian perusahaan). Sederhananya, Presiden berharap sektor peternakan dikelola secara kelembagaan karena lebih efisien daripada mengelola secara individual. Peternak dapat membangun kelompok dan membangun industri peternakan dari hulu hingga hilir.

Baca Juga :   Amankan situs Anda paling lambat Oktober atau setelahnya ...

Peternak yang terorganisir dapat diartikan sebagai upaya mengembangkan model bisnis dengan mengintegrasikan peternak, lahan dan pengelolaan usaha, sehingga mampu meningkatkan kelembagaan peternak, meningkatkan posisi tawar, memberikan nilai tambah, dan daya saing peternak, sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Perusahaan peternakan sangat diperlukan untuk kemajuan peternakan di masa yang akan datang dan hal ini harus didukung dengan adanya kawasan peternakan yang merupakan perpaduan antara sentra peternakan dan komponen pendukungnya yang harus memenuhi persyaratan minimal ruang lingkup ekonomi usaha.

Pengembangan kabupaten peternakan berbasis perusahaan peternak merupakan strategi penting dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan, dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan daya saing kabupaten.

Jika hal ini dapat tercapai, maka rantai pasok suatu produk hewani dapat dikoordinasikan dalam keseluruhan proses mulai dari persiapan awal proses produksi, serta pendistribusian produk ke konsumen, mulai dari proses penyediaan input, produksi proses, pengangkutan, penyimpanan, pendistribusian, penjualan dan pengiriman kepada masyarakat sebagai konsumen.

Bahkan, para petani tetap membudidayakan ternak secara mandiri meski tergabung dalam kelompok ternak. Kelompok ternak hanya sebatas sarana komunikasi untuk melaksanakan program kegiatan yang diberikan oleh pemerintah. Kelompok ternak belum memiliki orientasi komersial. Kelompok ternak hanya untuk kegiatan sosial.

Baca Juga :   Resep bayam dengan jamur - Antar News

Konversi

Transformasi manajerial membutuhkan persiapan dan proses yang panjang, banyak aspek non-teknis seperti organisasi, sumber daya manusia dan sejumlah aturan main harus disiapkan. Terlihat mudah di atas kertas, namun implementasi di lapangan tidaklah mudah. Grup Penggarap tidak dapat menerapkannya sendiri.

Mungkin ada baiknya kita belajar dari Sekolah Peternakan Populer Institut Pertanian Bogor (SPR IPB) yang dirintis oleh Prof Muladno pada 6 Mei 2013. SPR IPB merupakan salah satu contoh usaha pembibitan yang telah berhasil bertransformasi dari kelompok ternak menjadi perusahaan kelompok ternak.

Di SPR IPB, petani kecil atau petani kecil melakukan pembelajaran partisipatif untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas ternak melalui aksi kelompok secara berjamaah. Dengan kata lain, perusahaan melakukan sinergi dan kerjasama dengan berbagai pihak sebagai mitra. Pengembangan peternakan berbasis korporasi merupakan salah satu strategi penting dalam pemberdayaan ekonomi rakyat.

Menurut Profesor Moladno, Guru Besar Program Studi Sains dan Teknologi Produksi Ternak IPB University, membangun bisnis membutuhkan pola pikir yang kuat. Mindset adalah bagian tersulit dalam membangun sebuah perusahaan.

Organisasi sebagai landasan dasar perusahaan harus ditata dengan struktur organisasi yang jelas termasuk pembagian tugas dan wewenangnya. Manajer kelompok diprioritaskan untuk memiliki lebih banyak pengetahuan dan keterampilan dari anggota agar dapat mengelola bisnis perusahaan.

Tentu saja, secara kultural petani bukanlah pengusaha. Dengan demikian, bisnis perusahaan yang bertujuan untuk menjadi perusahaan populer membutuhkan bantuan yang luas.

Sinergi antara pendidik, akademisi, birokrat, dan pelaku komersial menjadi mutlak karena mereka yang bersangkutan Yang disebut empat pilar peternakan Indonesia.

Baca Juga :   Agenda MarTech sudah tayang! Lihat apa yang ada di toko

Pasalnya, kondisi riil di lapangan ini adalah para petani yang memiliki banyak pengalaman, namun lemah dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula, akademisi atau peneliti adalah ahli ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi mereka tidak dapat memelihara ternak. Kemudian, birokrat memiliki kekuatan dan anggaran tetapi sulit untuk menetapkan target yang tepat. Akhirnya pengusaha punya uang, tapi tidak mau bermitra dengan petani.

Agar keempat pilar tersebut dapat saling melengkapi untuk membangun pertanian bersama, keempat pilar tersebut harus mampu bersinergi dan bekerjasama dengan para petani sesuai perannya masing-masing.

Petani adalah pelaku komersial yang memiliki tanah, ternak, dan aset usaha. Akademisi memberikan inovasi, motivasi, dan bantuan. Birokrat memberikan pelayanan dan fasilitas kepada petani dalam hal organisasi, infrastruktur dan keuangan.

Begitu juga dengan pengusaha yang berperan sebagai mitra dan jaringan pemasaran. Keempat pilar ini harus berjalan beriringan dalam mewujudkan perusahaan peternakan yang populer.

*) drh Aulia Evi Susanti, MA adalah Peneliti di BPTP Sumsel, Badan Litbang Pertanian dan Doktor (Cand) Iptek Peternakan di IPB University

Oleh drh Aulia Evi Susanti, MA*)
Hak Cipta © Antara 2021



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *