Home / INTERNET

Minggu, 2 Oktober 2022 - 13:43 WIB

Menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap batik



Pekalongan (ANTARA) – Saat itu, situasi di salah satu ruangan Museum Batik Pekalongan, begitu ramai dengan kehadiran seratusan siswi pendidikan anak usia dini (PAUD).

Kehadiran para siswi PAUD se-Kota Pekalongan yang didampingi oleh guru sekolah Museum Batik ini memang bertujuan untuk mengikuti lomba dasar yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pekalongan.

Kegembiraan tampak pada wajah anak-anak saat mereka memegang spidol dan kertas folio berukuran panjang sekitar 50 sentimeter dan lebar 40 sentimeter itu untuk menggambar batik.

Bermacam-macam imajinasi mereka dalam gambar batik yang diinginkan. Penilaian lomba dasar membatik pun tidak menjadi hal yang utama karena tujuan adalah menumbuhkan kecintaan anak-anak untuk kerajinan batik sebagai warisan budaya bangsa.

kemajuan teknologi yang semakin canggih dengan peranti-peranti yang dapat diperoleh anak-anak dengan mudah, seperti penggunaan telepon seluler. Bisa dikatakan mereka sekarang lebih menyukai instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis (gawai).

Jika hal ini tidak dapat dibendung, maka kelestarian batik ke masa depan bisa terancam punah karena regenerasi pembuat kerajinan batik tidak berjalan dengan baik.

Karena itu, melalui kegiatan yang melibatkan anak-anak sekolah ini diharapkan dapat melahirkan bibit-bibit penerus pembatik asal Kota Pekalongan serta mampu meningkatkan semangat budaya asli Nusantara.

Pengaderan pembatik melalui kegiatan lomba membatik ini akan memberikan nilai tambah pada mereka agar bisa mengetahui proses membatik maupun jenis-jenis batik yang pada akhirnya mampu menumbuhkan rasaajin cintai pada batik ker.

Upaya pelestarian batik ini sangat berlasan karena Kota Pekalongan yang mendapat julukan sebagai Kota Kreatif Dunia dengan potensi batiknya dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Baca Juga :   Gernas BBI 2021 dikatakan relatif lebih baik dari tahun sebelumnya

Masalah yang dihadapi saat ini adalah regenerasi pembatik, terutama pembatik tulis. Banyak dari pembatik tulis yang ada saat ini sudah berusia sepuh (tua).

sudah berpuluh tahun mengabdikan dirinya untuk membatik dan hasil batiknya pun tidak menyangkal keindahannya.

menciptakan regenerasi perajin batik yang disajikan pada kenyataan hampir sebagian besar generasi muda lebih memilih bekerja yang lebih mudah dan menghasilkan banyak.

Pekerjaan membatik itu memerlukan orang yang terampil dan berjiwa seni, sehingga tidak mudah bagi generasi muda appabila tidak mungkin mendapatkan cara membatik.

“Oleh, siapa lagi yang akan karena batik?, jika tidak mulai sekarang kita melakukan regenerasi,” kata Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid.

Regenerasi pembatik di Kota Pekalongan, memang belum menghadapi tantangan berat. Kultur setempat yang memegang peran besar dalam menjaga perputaran tersebut.

Industri batik di Kota Pekalongan akan menghadapi masalah jika perajinnya setiap tahun, satu demi satu menghilang.

Berkurangnya para perajin itu, bisa karena sudah renta atau meninggal, ditambah belum berjalannya regenerasi dalam keluarga pembatik karena anak-anak perajin batik enggan menekuni profesi orang tuanya.

Dengan mengenalkan proses membatik sejak dini, khususnya bagi pelajar, mulai dari tingkat teman kanak-kanak hingga perguruan tinggi akan membangkitkan semangat untuk mengenal dan mencintai batik secara lebih mendalam sedanin ke fe dan.

Pandemi COVID-19

Kesenian membatik merupakan budaya yang sudah ada sejak zaman dahulu, khususnya di era Kerajaan Majapahit atau sejak berkembangnya Islam di Pulau Jawa.

Karena itu, batik dijadikan warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi oleh badan PBB urusan kebudayaan, yaitu United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2 Oktober 2009.

Baca Juga :   Biden mengatakan varian Delta-Covid 'sangat berbahaya' bagi kaum muda

Kerajinan batik menjadi industri kecil menengah (IKM) yang dijanjikan. Di Indonesia, perajin batik tulis yang terkenal dan tersebar di Pekalongan, Cirebon, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Rembang.

Sayangnya sejak pandemi Penyakit virus corona 2019 (COVID-19), industri kerajinan batik terkena imbasnya. Dampkanya, para perajin batik ada yang beralih profesi, seperti menjadi buruh tani, buruh pabrik, tukang batu, serta menjual sayuran.

Hanya usaha kecil dan menengah (UKM) batik kelompok besar saja yang masih beroperasi. Itu pun dengan risiko mereka harus mengurangi jumlah karyawannya agar tetap bertahan melangsungkan usaha.

Keilmuan membatik

Dewan Pakar Batik Indonesia Romi Oktabirawa menilai rendahnya tingkat regenerasi batik karena selama ini masih kurangnya pemahaman budaya tentang budaya batik bagi kaum milenial.

Kurangnya edukasi tentang membatik mengakibatkan pemahaman generasi muda, terutama dunia pendidikan yang kurang. Karena itu, perlunya para pemangku kepentingan batik harus bisa bekerj sama dengan dunia pendidikan.

Selama ini, masyarakat memandang batik hanya sebuah gambar, tetapi belum mengetahui sepenuhnya tentang sejarah dan muatan-muatan yang ada pada goresan maupun motif dari batik itu.

“Karena itu, kami mendukung perlunya batik sebagai muatan lokal di lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga tingkat perguruan tinggi sebagai ilmu, tidak semata-mata sebagai industri produksi batik,” katan.

Bahkan, Ketua Bidang Bisnis dan Pameran Asosiasi Perajin dan Pengusah Batik Indonesia (APPBI) ini menilai perlu adanya sinergi antara pengusaha batik dengan pemerintah sebagai upaya melindungi warisan budaya asli Indonesia ini.

Baca Juga :   Pemasaran Modern Di Era Digital

Selain itu, APPBI pun sering mengadakan pelatihan pada masyarakat, khususnya kaum milenial, termasuk melalui zoom webinar.

Tujuannya adalah mengenalkan dunia teknologi, teknik membatik, teknik pewarnaan, teknik berjualan secara berani, dan desain motif batik kekinian yang lebih simpel atau mudah.

Regenerasi batik ini jangan sampai terlambat karena orang mulai sadar, tetapi perajinnya sudah sepuh, maka mereka tak mampu membuat batik lagi.

Butuh jam terbang yang untuk membuat batik, sehingga regenerasi sejak usia dini sangat dibutuhkan untuk warisan budaya asli Indonesia ini.

Editor: Masuki M. Astro
HAK CIPTA © ANTARA 2022



Source link

Share :

Baca Juga

Pop up ad text box popping out of computer with a spring

INTERNET

Munculan atau tidak muncul
Penghargaan demografi untuk potensi besar Indonesia menjadi produsen ekonomi digital

INTERNET

Penghargaan demografi untuk potensi besar Indonesia menjadi produsen ekonomi digital
Google menjeda aktivitas untuk pengiklan yang berbasis di Rusia

INTERNET

Google menjeda aktivitas untuk pengiklan yang berbasis di Rusia
Akademisi: Kepresidenan G20 bisa 'mendukung' pertumbuhan ekonomi

INTERNET

Akademisi: Kepresidenan G20 bisa ‘mendukung’ pertumbuhan ekonomi
Dukung PON XX, Puncak Jaya Siapkan 1 Ton Kopi Mulia

INTERNET

Dukung PON XX, Puncak Jaya Siapkan 1 Ton Kopi Mulia
Pusri Pastikan Ketersediaan Pupuk Bersubsidi untuk Sumsel

INTERNET

Pusri Pastikan Ketersediaan Pupuk Bersubsidi untuk Sumsel
Sponsori prospek Anda atau berhenti berlangganan: Pasar minggu ini

INTERNET

Sponsori prospek Anda atau berhenti berlangganan: Pasar minggu ini
Tiket kereta gratis terkait Hari Pahlawan tidak berlaku untuk dokter

INTERNET

Tiket kereta gratis terkait Hari Pahlawan tidak berlaku untuk dokter